Selama lebih dari satu abad, pertanyaan apakah jalur kereta api harus digantikan dengan jalan raya telah menjadi perdebatan, dan argumen-argumen awal muncul segera setelah kendaraan bermotor mulai bermunculan. Ketegangan antara kedua moda transportasi ini bukan hanya soal persaingan; ini tentang masa depan infrastruktur, ekonomi, dan bahkan kenyamanan publik Inggris.
Keraguan Awal Tentang Mobil
Sejak tahun 1912, beberapa orang berpendapat bahwa “mobil harus menggantikan” kereta api, meskipun teknologi dan infrastruktur mobil masih baru. Pada saat itu, hanya ada sekitar 150.000 kendaraan yang bergerak lambat di jalan yang sering kali rusak. Bahkan para pendukung mobil, seperti majalah Autocar, menyadari bahwa sistem kereta api masih memiliki ruang untuk perbaikan. Daripada melakukan penggantian langsung, solusi terbaik dipandang sebagai sistem kolaboratif antara kedua mode.
Perusahaan Kereta Api Melihat Ancaman Eksistensial
Namun, perusahaan kereta api menganggap munculnya kendaraan self-propelled sebagai ancaman langsung terhadap keberadaan mereka. Sir Hugh Bell, direktur LNER pada tahun 1927, dengan blak-blakan menyatakan bahwa “90% mobil di jalan raya saat ini tidak diperlukan lagi,” dan menuduh pelobi kereta api melancarkan perang terhadap transportasi jalan raya. Autocar juga menyuarakan sentimen yang sama, dengan mencatat bagaimana perkeretaapian pertama-tama menargetkan bus dan gerbong dengan peraturan, kemudian angkutan komersial, dan akhirnya, pemilik mobil pribadi.
Penurunan Pasca Perang dan Proposal Radikal
Setelah nasionalisasi setelah Perang Dunia II, British Rail dengan cepat mengalami kesulitan keuangan, kehilangan £2–£3 juta setiap minggu pada tahun 1955. Autocar tidak menahan diri, menyatakan bahwa “kecintaan orang Inggris terhadap kereta api sebenarnya merupakan beban bagi perekonomian negara.” Hal ini memunculkan usulan dari seorang insinyur militer, Thomas Ifan Lloyd, yang menyarankan untuk mengubah jalur kereta api menjadi “sistem jalan raya yang dilindungi undang-undang”. Lloyd berpendapat bahwa hal ini akan memberikan keuntungan dalam hal kapasitas, biaya, tenaga kerja, keselamatan, teknik, dan strategi.
Skala Transisi
Laporan Lloyd menyimpulkan bahwa pekerjaan 1,242 juta unit kereta api dapat diselesaikan hanya dengan 10.300 truk dan bus bermuatan penuh yang beroperasi enam hari seminggu. Peralihan ini secara efektif akan membuat kerumunan orang yang menunggu menjadi tidak berguna lagi, karena bus dapat sepenuhnya menggantikan kereta api.
Perdebatan mengenai kereta api versus jalan raya bukan sekadar keingintahuan sejarah. Laporan ini menyoroti ketegangan yang sedang berlangsung antara infrastruktur yang sudah mapan dan teknologi yang disruptif, serta realitas ekonomi yang sering kali mendorong transisi tersebut. Baik melalui kebijakan yang disengaja atau kekuatan pasar, masa depan transportasi selalu diperebutkan.








