Jaecoo telah mengumumkan penarikan kembali yang berdampak pada sekitar 7,500 SUV Jaecoo 7 yang dijual di Inggris, untuk mengatasi kerusakan pada sistem elektronik kendaraan. Masalahnya berpusat pada klip rangkaian kabel yang tidak terpasang dengan benar yang terhubung ke Unit Kontrol Mesin (ECU). Cacat ini dapat memicu lampu peringatan mesin dan, dalam beberapa kasus, menyebabkan mesin mati secara tidak terduga.
Masalah dan Kendaraan yang Terkena Dampak
Penarikan kembali ini mempengaruhi kendaraan yang diproduksi antara April dan Desember 2025, mewakili sekitar 26% dari seluruh unit Jaecoo 7 yang terjual di Inggris tahun lalu. Masalahnya hanya terjadi pada model yang dilengkapi mesin bensin TGi 1,6 liter; varian hybrid plug-in tidak terpengaruh. Khususnya, Omoda 5 yang berkerabat dekat, yang berbagi powertrain yang sama, saat ini dikecualikan dari penarikan.
Bagaimana Pemilik Akan Diberitahu
Jaecoo UK berencana untuk memberi tahu pemilik yang terkena dampak melalui berbagai saluran, termasuk komunikasi langsung melalui sistem Manajemen Hubungan Pelanggan (CRM) dan melalui dealer resmi. Pelanggan akan ditawari inspeksi dan perbaikan gratis untuk memperbaiki masalah rangkaian kabel.
Perbaikan Keamanan dan Produksi
Penarikan ini tidak diklasifikasikan sebagai perintah “stop-drive”, yang berarti pemilik dapat terus mengoperasikan kendaraannya sambil menunggu janji perbaikan. Jaecoo telah mengonfirmasi bahwa proses produksi telah diperbarui untuk mencegah terulangnya cacat pada model mendatang. Ini adalah penarikan besar pertama Jaecoo sejak peluncurannya di Inggris tahun lalu.
Konteks: Pertumbuhan Pesat dan Pengendalian Mutu
Penarikan kembali ini terjadi ketika Jaecoo mengalami pertumbuhan penjualan yang pesat di pasar Inggris, melampaui merek-merek mapan seperti Honda, Citroen, dan SEAT. Pada tahun 2025, penjualan gabungan Jaecoo dan merek saudaranya Omoda melebihi penjualan Dacia dan Tesla.
Penarikan kembali ini menyoroti pentingnya kontrol kualitas yang ketat dalam industri otomotif, khususnya untuk merek-merek yang sedang berkembang pesat. Meskipun tidak langsung berbahaya, masalah ini menunjukkan bahwa pendatang baru yang sukses pun dapat menghadapi tantangan manufaktur yang sama.
Insiden tersebut menjadi pengingat bahwa merek berkinerja tinggi pun harus mengutamakan keandalan produk untuk menjaga kepercayaan konsumen.
